Siklus Ekonomi
Oleh :
Robiyanto
Saat ini
kita seringkali mendengar hiruk pikuk mengenai krisis ekonomi Eropa, dan
dampaknya terhadap perekonomian dunia saat ini bahkan potensi pengaruhnya
terhadap perekonomian Indonesia. Agar dapat diperoleh pemahaman mengenai krisis
tersebut maka perlu adanya pengetahuan tentang siklus ekonomi.
A. Siklus Ekonomi
Siklus ekonomi adalah periode yang terulang secara
teratur dalam pengembangan sebuah pasar perekonomian. Keseluruhan trend dari
pertumbuhan ekonomi disertai dengan adanya fluktuasi secara periodik dalam
aktivitas perekonomian, yaitu : kemunduran dan perluasan yang terjadi secara
silih berganti pada produksi, investasi, peningkatan dan penurunan pada level
pendapatan, ketenagakerjaan, harga-harga, suku bunga dan rate pada sekuritas.
Siklus aktivitas ekonomi meliputi 4 fase berikut : Ekspansi, Peak, Resesi dan
bottom. Berikut adalah penjelasan mengenai 4 fase tersebut :
1. Ekspansi
Setelah mencapai titik terendah pada sebuah siklus ada
sebuah fase pemulihan, yang ditandai dengan adanya pertumbuhan lapangan kerja
dan produksi. Banyak ekonom yang mempercayai bahwa tahapan ini memiliki tingkat
inflasi yang rendah hingga perekonomian mulai beroperasi pada kapasitas penuh
atau, dengan kata lain hingga perekonomian mencapai tahapan peak.
2. Peak
Sebuah peak, atau puncak dari siklus bisnis, adalah
titik tertinggi pada suatu pemulihan perekonomian. Pada titik ini, pengangguran
mencapai titik terendah atau bahkan tidak ada sama sekali dan perekonomian
berjalan dengan muatan maksimal (atau hampir), dimana seluruh modal dan sumber
daya tenaga kerja pada negara tersebut terlibat dalam produksi. Biasanya, meski
tidak selalu, selama terjadinya tahapan peak, tekanan inflasi meningkat.
3. Resesi
Resesi adalah suatu periode pengurangan output dan
aktivitas bisnis. Sebagai akibat dari pasar yang mengalami penurunan, yang
biasanya ditandai dengan meningkatnya pengangguran. Kebanyakan ekonom
mempercayai bahwa kemerosotan perekonomian atau resesi hanyalah sebuah
penurunan dalam aktivitas bisnis, yang berlangsung setidaknya selama enam
bulan.
4. Bottom
Bottom pada siklus perekonomian adalah titik terendah
pada produksi dan ketenagakerjaan. Dipercaya bahwa sampainya level/tahapan
bottom memprediksikan bahwa akhir dari resesi pada tahapan pada siklus ini
tidaklah lama. Namun sejarah mengetahui dan memprotes aturan ini. Depresi
terbesar pada tahun 1930 bertahan hingga hampir 10 tahun lamanya.
Long Cycle adalah siklus perekonomian dengan jangka waktu lebih dari 10 tahun. Kadang siklus-siklus tersebut diberi nama sesuai dengan nama penelitinya.
Long Cycle adalah siklus perekonomian dengan jangka waktu lebih dari 10 tahun. Kadang siklus-siklus tersebut diberi nama sesuai dengan nama penelitinya.
- Investment cycles/siklus investasi (7-11 tahun) diteliti oleh Clement Juglar;
- Infrastructure investment cycles/siklus investasi infrastruktur (15-25 tahun) diteliti oleh Simon Kuznets;
- Series of Kondratieff /Rangkaian-rangkaian Kondratieff (45-60 tahun) dijelaskan oleh ekonom Rusia, Nikolai Kondratiev;
- Cycles of Forrester/Siklus Forrester (200 tahun) dijelaskan oleh Insinyur Amerika, Jay Forrester.
Aktivitas siklus perekonomian bervariasi dan
berbeda-beda durasinya, yaitu durasi pada fase individual, ketinggian maksimal
dan kedalaman maksimal. Saat ini, meredakan fluktuasi siklus dan aktivitas
bisnis menjadi perhatian, sehingga jarak antara krisis satu dengan yang
berikutnya menjadi lebih lama, tingkat kedalaman dan kekuatan destruktifnya pun
menjadi lebih berkurang. Kebanyakan, suatu krisis digantikan oleh resesi-dalam
bentuk yang lebih ringan.
Meskipun ada anggapan bahwa perubahan dalam kegiatan
bisnis secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan siklus ekonomi,
namun juga ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi ekonomi. Yang paling
penting diantara faktor-faktor tersebut adalah fluktuasi musiman, dan trend
jangka panjang.
Pengaruh dari variasi-variasi musiman dapat diamati
pada waktu-waktu tertentu dalam satu tahun, contohnya, sesaat sebelum Natal
atau Paskah saat aktivitas bisnis meningkat secara dramatis, khususnya pada
perdagangan retail. Pada industri lain, seperti agrikultur, konstruksi dan
industri mobil, juga ada variasi-variasi musiman.
Siklus ekonomi sering di asosiasikan dengan
perubahan-perubahan pada volume output. Banyak ekonomis yang mempercayai bahwa
output tersebut biasanya diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau gross
domestic product (GDP) dan indikator yang paling dapat diandalkan pada
perekonomian. Penting untuk diingat bahwa siklus ekonomi pada fase recovery,
bukanlah peningkatan pada GDP, namun merupakan langkah dari peningkatan ini.
Nilai negatif pada tingkat pertumbuhan selama suatu periode waktu tertentu,
biasanya selama 6 bulan atau lebih, dapat dianggap sebagai sebuah tanda
penurunan pada suatu perekonomian. Sebaliknya, tingginya tingkat pertumbuhan secara
konsisten dari bulan ke bulan, menunjukkan bahwa perekonomian tersebut saat ini
sedang booming.
B.
Posisi Amerika Serikat, Eropa, China dan Indonesia Dalam Siklus Ekonomi
Krisis yang terjadi di
Eropa sebenarnya merupakan dampak berkepanjangan dari krisis kredit yang
terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 yang lalu. Hal ini dapat terjadi
karena banyak lembaga keuangan di Eropa yang memiliki portofolio investasi
berupa sub prime mortgage yang
merupakan biang kerok krisis kredit tersebut. Hanya saja Amerika Serikat telah
mampu memulihkan perekonomiannya, sedangkan Eropa masih bergumul untuk
mengatasinya. Dalam perspektif siklus ekonomi, Eropa masih berkisar di tahap
resesi menuju bottom, sedangkan Amerika Serikat telah mulai masuk masa ekspansi
kembali. Amerika Serikat lebih cepat pulih karena menerapkan kebijakan ekonomi
yang tepat yaitu kebijakan suku bunga rendah untuk memacu konsumsi dan
perekonomian. Hal yang berbeda diterapkan pada Eropa, para pengambil kebijakan
mengambil kebijakan yang keliru dengan menerapkan program penghematan (austerity program) yang malah
memperburuk kondisi perekonomian. Situasi ini sama ketika IMF memberikan resep
bagi krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang bukannya memperbaiki
kondisi perekonomian namun malah membuatnya makin morat-marit.Beruntung KTT
Eropa yang dilakukan pada akhir bulan Juni 2012 menghasilkan kesepakatan yang
mengejutkan yang dipandang lebih mampu menangani kondisi yang ada saat ini.
Banyak pihak mengatakan
bahwa krisis Eropa dapat menyeret negara-negara lain seperti China dan Indonesia ke zona krisis. Data indikator
ekonomi di China digembar-gemborkan mulai menunjukkan perlambatan dan otoritas
moneter mulai menerapkan kebijakan tight
money policy. Hal ini membuat takut banyak pihak mengenai prospek
perekonomian China. Sebenarnya dari perspektif perekonomian, kondisi ini
disengaja oleh otoritas moneter China untuk mengerem laju pertumbuhannya agar
tidak overheating dan meredam
inflasi. Secara umum kondisi makro ekonomi China masih terkendali dan memiliki
kemungkinan kecil untuk terjerumus ke krisis ditambah fakta bahwa ekonomi China
juga masih berada dalam siklus ekspansi.
Kondisi perekonomian di
Eropa saat ini memang memiliki dampak terhadap perekonomian Indonesia, namun
dampaknya tidak signifikan. Hal ini karena Eropa bukanlah mitra dagang utama
Indonesia karena mitra dagang utama Indonesia adalah China, Jepang dan Amerika
Serikat. Namun gejolak temporer pasti akan terasa di pasar finansial seiring
dengan makin terintegrasinya pasar finansial di seluruh dunia. Belajar dari
krisis 2008, perekonomian Indonesia terbukti kokoh dan tahan goncangan. Apalagi
saat ini kebijakan suku bunga rendah yang diterapkan otoritas moneter di
Indonesia memiliki dampak positif terhadap perekonomian nasional dan makin
mengokohkan bahwa Indonesia masih berada dalam siklus ekspansi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar