Minggu, 06 Oktober 2013

Siklus Ekonomi

Siklus Ekonomi
Oleh : Robiyanto
Saat ini kita seringkali mendengar hiruk pikuk mengenai krisis ekonomi Eropa, dan dampaknya terhadap perekonomian dunia saat ini bahkan potensi pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. Agar dapat diperoleh pemahaman mengenai krisis tersebut maka perlu adanya pengetahuan tentang siklus ekonomi.

A. Siklus Ekonomi
Siklus ekonomi adalah periode yang terulang secara teratur dalam pengembangan sebuah pasar perekonomian. Keseluruhan trend dari pertumbuhan ekonomi disertai dengan adanya fluktuasi secara periodik dalam aktivitas perekonomian, yaitu : kemunduran dan perluasan yang terjadi secara silih berganti pada produksi, investasi, peningkatan dan penurunan pada level pendapatan, ketenagakerjaan, harga-harga, suku bunga dan rate pada sekuritas. Siklus aktivitas ekonomi meliputi 4 fase berikut : Ekspansi, Peak, Resesi dan bottom. Berikut adalah penjelasan mengenai 4 fase tersebut :

1. Ekspansi
Setelah mencapai titik terendah pada sebuah siklus ada sebuah fase pemulihan, yang ditandai dengan adanya pertumbuhan lapangan kerja dan produksi. Banyak ekonom yang mempercayai bahwa tahapan ini memiliki tingkat inflasi yang rendah hingga perekonomian mulai beroperasi pada kapasitas penuh atau, dengan kata lain hingga perekonomian mencapai tahapan peak.

2. Peak
Sebuah peak, atau puncak dari siklus bisnis, adalah titik tertinggi pada suatu pemulihan perekonomian. Pada titik ini, pengangguran mencapai titik terendah atau bahkan tidak ada sama sekali dan perekonomian berjalan dengan muatan maksimal (atau hampir), dimana seluruh modal dan sumber daya tenaga kerja pada negara tersebut terlibat dalam produksi. Biasanya, meski tidak selalu, selama terjadinya tahapan peak, tekanan inflasi meningkat.

3. Resesi
Resesi adalah suatu periode pengurangan output dan aktivitas bisnis. Sebagai akibat dari pasar yang mengalami penurunan, yang biasanya ditandai dengan meningkatnya pengangguran. Kebanyakan ekonom mempercayai bahwa kemerosotan perekonomian atau resesi hanyalah sebuah penurunan dalam aktivitas bisnis, yang berlangsung setidaknya selama enam bulan.

4. Bottom
Bottom pada siklus perekonomian adalah titik terendah pada produksi dan ketenagakerjaan. Dipercaya bahwa sampainya level/tahapan bottom memprediksikan bahwa akhir dari resesi pada tahapan pada siklus ini tidaklah lama. Namun sejarah mengetahui dan memprotes aturan ini. Depresi terbesar pada tahun 1930 bertahan hingga hampir 10 tahun lamanya.
Long Cycle adalah siklus perekonomian dengan jangka waktu lebih dari 10 tahun. Kadang siklus-siklus tersebut diberi nama sesuai dengan nama penelitinya.
  • Investment cycles/siklus investasi (7-11 tahun) diteliti oleh Clement Juglar;
  • Infrastructure investment cycles/siklus investasi infrastruktur (15-25 tahun) diteliti oleh Simon Kuznets;
  • Series of Kondratieff /Rangkaian-rangkaian Kondratieff (45-60 tahun) dijelaskan oleh ekonom Rusia, Nikolai Kondratiev;
  • Cycles of Forrester/Siklus Forrester (200 tahun) dijelaskan oleh Insinyur Amerika, Jay Forrester.
Aktivitas siklus perekonomian bervariasi dan berbeda-beda durasinya, yaitu durasi pada fase individual, ketinggian maksimal dan kedalaman maksimal. Saat ini, meredakan fluktuasi siklus dan aktivitas bisnis menjadi perhatian, sehingga jarak antara krisis satu dengan yang berikutnya menjadi lebih lama, tingkat kedalaman dan kekuatan destruktifnya pun menjadi lebih berkurang. Kebanyakan, suatu krisis digantikan oleh resesi-dalam bentuk yang lebih ringan.
Meskipun ada anggapan bahwa perubahan dalam kegiatan bisnis secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan siklus ekonomi, namun juga ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi ekonomi. Yang paling penting diantara faktor-faktor tersebut adalah fluktuasi musiman, dan trend jangka panjang.
Pengaruh dari variasi-variasi musiman dapat diamati pada waktu-waktu tertentu dalam satu tahun, contohnya, sesaat sebelum Natal atau Paskah saat aktivitas bisnis meningkat secara dramatis, khususnya pada perdagangan retail. Pada industri lain, seperti agrikultur, konstruksi dan industri mobil, juga ada variasi-variasi musiman.
Siklus ekonomi sering di asosiasikan dengan perubahan-perubahan pada volume output. Banyak ekonomis yang mempercayai bahwa output tersebut biasanya diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) dan indikator yang paling dapat diandalkan pada perekonomian. Penting untuk diingat bahwa siklus ekonomi pada fase recovery, bukanlah peningkatan pada GDP, namun merupakan langkah dari peningkatan ini. Nilai negatif pada tingkat pertumbuhan selama suatu periode waktu tertentu, biasanya selama 6 bulan atau lebih, dapat dianggap sebagai sebuah tanda penurunan pada suatu perekonomian. Sebaliknya, tingginya tingkat pertumbuhan secara konsisten dari bulan ke bulan, menunjukkan bahwa perekonomian tersebut saat ini sedang booming.

B. Posisi Amerika Serikat, Eropa, China dan Indonesia Dalam Siklus Ekonomi
Krisis yang terjadi di Eropa sebenarnya merupakan dampak berkepanjangan dari krisis kredit yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 yang lalu. Hal ini dapat terjadi karena banyak lembaga keuangan di Eropa yang memiliki portofolio investasi berupa sub prime mortgage yang merupakan biang kerok krisis kredit tersebut. Hanya saja Amerika Serikat telah mampu memulihkan perekonomiannya, sedangkan Eropa masih bergumul untuk mengatasinya. Dalam perspektif siklus ekonomi, Eropa masih berkisar di tahap resesi menuju bottom, sedangkan Amerika Serikat telah mulai masuk masa ekspansi kembali. Amerika Serikat lebih cepat pulih karena menerapkan kebijakan ekonomi yang tepat yaitu kebijakan suku bunga rendah untuk memacu konsumsi dan perekonomian. Hal yang berbeda diterapkan pada Eropa, para pengambil kebijakan mengambil kebijakan yang keliru dengan menerapkan program penghematan (austerity program) yang malah memperburuk kondisi perekonomian. Situasi ini sama ketika IMF memberikan resep bagi krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang bukannya memperbaiki kondisi perekonomian namun malah membuatnya makin morat-marit.Beruntung KTT Eropa yang dilakukan pada akhir bulan Juni 2012 menghasilkan kesepakatan yang mengejutkan yang dipandang lebih mampu menangani kondisi yang ada saat ini.
Banyak pihak mengatakan bahwa krisis Eropa dapat menyeret negara-negara lain seperti China  dan Indonesia ke zona krisis. Data indikator ekonomi di China digembar-gemborkan mulai menunjukkan perlambatan dan otoritas moneter mulai menerapkan kebijakan tight money policy. Hal ini membuat takut banyak pihak mengenai prospek perekonomian China. Sebenarnya dari perspektif perekonomian, kondisi ini disengaja oleh otoritas moneter China untuk mengerem laju pertumbuhannya agar tidak overheating dan meredam inflasi. Secara umum kondisi makro ekonomi China masih terkendali dan memiliki kemungkinan kecil untuk terjerumus ke krisis ditambah fakta bahwa ekonomi China juga masih berada dalam siklus ekspansi.
Kondisi perekonomian di Eropa saat ini memang memiliki dampak terhadap perekonomian Indonesia, namun dampaknya tidak signifikan. Hal ini karena Eropa bukanlah mitra dagang utama Indonesia karena mitra dagang utama Indonesia adalah China, Jepang dan Amerika Serikat. Namun gejolak temporer pasti akan terasa di pasar finansial seiring dengan makin terintegrasinya pasar finansial di seluruh dunia. Belajar dari krisis 2008, perekonomian Indonesia terbukti kokoh dan tahan goncangan. Apalagi saat ini kebijakan suku bunga rendah yang diterapkan otoritas moneter di Indonesia memiliki dampak positif terhadap perekonomian nasional dan makin mengokohkan bahwa Indonesia masih berada dalam siklus ekspansi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar